Video vs Gambar buat Iklan Meta — Mana yang Lebih Perform? (Jawabannya Tergantung Ini)

Oleh Redaksi Kanzen AdsPenanggung jawab Boy TenggaraTerbit 3 Agustus 2026Diperbarui 16 Agustus 20264 menit baca

Jawaban singkat

Tidak ada pemenang mutlak antara video dan gambar untuk iklan Meta. Data yang ada menunjukkan trade-off yang konsisten: video cenderung unggul di metrik engagement seperti like dan comment, sementara gambar cenderung lebih murah dan lebih cepat dites, bahkan kadang punya biaya-per-pembelian lebih rendah untuk campaign yang fokus penjualan langsung. Pilihan yang lebih masuk akal adalah mencocokkan format dengan tujuan campaign, bukan sekadar mengikuti tren.

Video Menang di Sini: Engagement dan Cerita Produk

Kalau tujuanmu membangun kesadaran atau mengedukasi audiens, video punya keunggulan yang sulit ditandingi. Berdasarkan analisis 12,7 miliar impresi dan 117.000 materi iklan di platform Meta, video ads menerima rata-rata 612% lebih banyak like dan comment dibanding gambar. Artinya, audiens jauh lebih tertarik untuk berinteraksi dengan konten bergerak, yang bisa membantu meningkatkan jangkauan organik dan memperkuat brand awareness.

Video juga unggul dalam menyampaikan cerita produk. Demonstrasi cara pakai, testimoni visual, atau narasi singkat bisa menjelaskan nilai produk lebih jelas daripada foto statis. Ini sangat berguna untuk produk yang butuh penjelasan, seperti skincare, gadget, atau layanan jasa.

  • Video lebih efektif untuk tahap awal funnel, di mana audiens belum kenal brand.
  • Engagement yang tinggi bisa memicu algoritma Meta untuk menampilkan iklan ke lebih banyak orang.
  • Cerita yang kuat lewat video bisa membangun koneksi emosional yang sulit dicapai gambar.

Gambar Menang di Sini: Kecepatan Bikin dan Biaya

Di sisi lain, gambar punya keunggulan praktis yang tidak bisa diabaikan. Produksi gambar jauh lebih murah dan cepat dibanding video. Kamu bisa membuat beberapa variasi gambar dalam sehari, sementara video butuh waktu dan biaya lebih besar. Ini penting untuk pengujian cepat.

Dari dataset yang sama, video ads punya CTR rata-rata 7% lebih rendah dan biaya-per-pembelian rata-rata 24% lebih tinggi dibanding gambar secara keseluruhan. Artinya, untuk campaign yang murni fokus penjualan langsung, gambar bisa lebih efisien.

  • Gambar lebih murah diproduksi, cocok untuk budget terbatas.
  • Lebih cepat diuji, sehingga kamu bisa menemukan pesan yang tepat lebih cepat.
  • Untuk direct response, gambar sering memberikan hasil lebih baik dengan biaya lebih rendah.

Kenapa Datanya Nggak Konsisten Antar-Sumber (dan Kenapa Itu Wajar)

Kamu mungkin melihat hasil berbeda dari berbagai sumber. Ini wajar karena hasil sangat tergantung pada brand, industri, dan objective campaign. Misalnya, survei Databox terhadap 95 pemasar menunjukkan 67,55% bilang video mendorong lebih banyak klik iklan di Facebook, sementara 26,47% memilih gambar dan 5,88% bilang tidak ada beda. Ini persepsi pemasar, bukan pengukuran langsung data iklan.

Selain itu, tidak ada data resmi Meta yang mempublikasikan perbandingan CTR atau biaya video vs gambar secara spesifik untuk pasar Indonesia. Jadi, kamu perlu menilai sendiri dengan menguji di akunmu. Bandingkan performa video dan gambar untuk campaign-mu sendiri, karena kondisi pasar dan audiensmu unik.

  • Hasil dari sumber lain bisa jadi acuan awal, tapi bukan kebenaran mutlak.
  • Faktor seperti jenis produk, target audiens, dan kreativitas sangat memengaruhi hasil.
  • Jangan langsung menyimpulkan satu format lebih baik tanpa data dari akunmu sendiri.

Kerangka Milih: Cocokkan dengan Tujuan Campaign, Bukan Format Favorit

Daripada bertanya "mana yang lebih baik", tanyakan "mana yang lebih sesuai dengan tujuan campaign-ku?". Ini kerangka yang lebih berguna.

  • Untuk awareness atau edukasi: condong ke video. Video lebih mampu menyampaikan cerita dan membangun koneksi emosional.
  • Untuk direct response atau promo cepat: mulai dengan gambar. Gambar lebih murah dan cepat dites, sehingga kamu bisa menemukan pesan yang paling efektif dengan cepat.
  • Untuk remarketing: pertimbangkan video, karena datanya menunjukkan biaya-per-pembelian sedikit lebih rendah untuk audiens yang sudah kenal brand.

Kamu juga bisa memanfaatkan Dynamic Creative dari Meta, yang memungkinkan kamu mengunggah beberapa gambar dan video sekaligus. Meta akan otomatis mengombinasikan dan mengoptimalkan untuk mencari performa terbaik. Ini cara praktis untuk menguji tanpa harus memilih satu format.

Cara Paling Aman: Uji Berdua, Bukan Nebak

Daripada menebak, cara paling aman adalah menguji kedua format secara bersamaan. Buat campaign dengan dua ad set: satu berisi gambar, satu berisi video. Biarkan berjalan beberapa hari, lalu lihat metrik mana yang lebih sesuai dengan tujuanmu.

  • Pastikan elemen lain seperti teks, target audiens, dan penawaran sama, agar perbandingan adil.
  • Gunakan metrik yang relevan: CTR untuk klik, cost-per-purchase untuk penjualan, atau engagement untuk awareness.
  • Jangan terlalu cepat menyimpulkan; beri waktu cukup untuk mengumpulkan data.

Dengan pengujian, kamu bisa mendapatkan data spesifik untuk brand dan audiensmu. Ini lebih berharga daripada mengandalkan tren umum.

Sambungan Kanzen

Karena jawaban artikel ini adalah "uji dua-duanya sesuai tujuan campaign", kemampuan membuat gambar dan video dari aset produk yang sama dalam satu alur kerja sangat membantu. Dengan fitur image_video_generation di Kanzen Ads, kamu bisa membuat kedua format dari satu produk tanpa perlu tim desain dan videografer terpisah.

Cara kerjanya: kamu cukup menyiapkan aset produk, lalu sistem akan menghasilkan variasi gambar dan video yang bisa langsung dipakai untuk campaign. Ini mempercepat proses produksi dan memungkinkan kamu menjalankan rekomendasi artikel ini dengan praktis.

Dengan begitu, kamu bisa fokus pada strategi dan pengujian, bukan sibuk mengurus produksi. Coba fitur ini untuk mempermudah eksperimen format iklanmu.

Sumber

Baca juga